oleh

ANDAI KITA PUNYA MESIN WAKTU

-OPINI-368 Dilihat

Jika iman dan amal shalih manfaatnya kepada diri kita sendiri, maka saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran itu bermanfaat untuk diri kita dan juga orang lain. Pegang teguh kebenaran dengan sabar. Pegang teguh kesabaran dalam menjalankan kebenaran.

Kenapa demikian? Karena sekali lagi kita tidak punya waktu yang banyak hidup di dunia ini.

Baca Juga  Ada yang Lindungi DPD di KPK?

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Begitulah Seno Gumira Ajidarma menggambarkan ketakutannya terhadap keadaan hidup.

Sangat mengerikan memang, membayangkan masa muda yang hanya berisi kesemrawutan kehidupan tanpa memaknainya. Kehidupan yang dipenuhi dengan sesaknya dada karena pekerjaan yang sama terus menerus, memandang masa depan yang sangat gelap, pasti merupakan siksaan tersendiri di hidup manusia. Lalu di akhir, pensiun dengan uang yang tidak seberapa.

Baca Juga  Semiotika Idul Fitri

Banyak sudah saudara, keluarga, dan kolega kita yang telah lebih dulu meninggalkan kita di dunia ini. Kita pun tidak akan hidup selamanya.
Boleh jadi ini Ramadan terakhir kita. Mungkin saja ini Idul Fitri terakhir kita.

Itu sebabnya kita saling memaafkan hari ini. Ini pun bagian dari saling menasehati untuk mentaati kebenaran dan nasehat menasehati demi menetapi kesabaran. Boleh jadi ini permintaan maaf terakhir kita.

Baca Juga  Usut tuntas Teror Kepala Babi Jurnalis Tempo

Mohon maaf lahir batin. Minal a’idin wal faizin
.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed