Kekuatan birokrat sentris itu ditandai publik dengan jabatan Sekertaris Kota Ternate, puncak tertinggi birokrasi di pemerintah Kota Ternate.
Magis politik Sekot di pilwako Ternate bukan soal duit tetapi ada mindset sosial yang telah eksisting membudaya yang berkembang di pentas politik bahwa Sekot dengan pengalaman dan kapasitasnya lebih afdol layaknya putra mahkota di pemkot Ternate.
Warga kota ternate yang dominan profesional, nampak lebih mengidolakan sosok pemimpin Kota Ternate yang memiliki beack ground kapasitas manajerial birokrasi pemerintahan kota Ternate yang mumpuni plus aura leadership dan Tehnokrasi yang kuat.
Rakyat kota ternate nampak tak ingin berjudi dengan siapa pemimpin mereka, sebab pemimpin kota ternate amat berbeda dengan pemimpin di daerah kabupaten kota lainya.Di Ternate nyaris 100% kehidupan warga kota bergantung langsung dengan kebijakan pemerintah Kota Ternate.
So ! Siapa Walikota Ternate harus mampu dalam hal kapasitas manajerial pemerintahan (leadership), kapasitas otak (Tehnokrasi) dan kepedulian rakyat guna bisa menjamin kehidupan mereka.Asumsi ini masuk akal.Dari mulai urusan air, makan-minum, pembangunan sampah sampai pelayanan publik adalah urusan mendasar warga kota yang harus bersentuhan langsung dengan kebijakan walikota Ternate.
Duss! Menyerahkan kota ternate kepada tangan yang salah apalagi hanya mengandalkan kekuatan diplomasi politik bahkan uang semata adalah alamat bunuh diri.
Pada perspektif budaya politik seperti ini, tak heran, siapa Sekot ternate saat ini menjadi The Rissing Star dalam wacana cawali ideal Kota Ternate.Sekot Ternate ramai diwacanakan publik sebagai suksesor ideal M.Tauhid Soleman.
Dalam kondisi politik seperti ini, Rizal Marsaoly, Sekot Ternate bak menemukan durian runtuh.Tanpa Ba bi bu, namanya langsung mengudara di puncak wacana siapa kandidat walikota Ternate potensial di pilwako 2029 kelak.
Komentar